Kamis, April 09, 2009

Angka Rawan Tidak Lulus Masih Tinggi

Masih tingginya angka rawan tidak lulus di Kota Malang membuat para kepala sekolah memutar strategi. Kalau sebelumnya siswa digenjot dengan materi ujian nasional saja, kali ini lebih pada pembinaan mental. Karena itu, sekolah pun mendatangkan motivator handal untuk membangkitkan semangat siswanya.
“Kalau dibebani dengan materi UN saja bisa membuat anak stress. Karena itu kami hadirkan materi lain yang masih relevan,” kata Kepala SMAN 4 Malang, Drs Try Suharno disela agenda sosialisasi ujian sekolah dan ujian nasional di SMKN 3 Malang kemarin. Baca Selengkapnya
Sumber : Berita Malang Raya

Rabu, April 01, 2009

Tunjangan Profesi Guru di STOP ?????



Setelah berita ini ;
Tunjangan Profesi Guru Terancam Dihentikan
terus ini :
Beita Gembira......

Tunjangan Profesi Tetap Dibayarkan, Pemerintah Jamin Aturan Segera Selesai
31 Mar 2009 | Komentar : 2

Jakarta, Kompas - Pemerintah menjamin pemberian tunjangan profesi untuk guru dan dosen akan tetap dibayarkan. Untuk itu, pemerintah akan segera mempercepat terbitnya peraturan pemerintah dan peraturan presiden yang menjadi landasan hukum pemberian tunjangan profesi.

”Surat Menteri Keuangan kepada Menteri Pendidikan dan Menteri Agama itu semangatnya tidak untuk membatalkan tunjangan profesi. Namun, tujuannya agar kami mempercepat penyelesaian peraturan pemerintah tentang dosen dan peraturan presiden soal tunjangan profesi. Pokoknya, sebelum Juni kedua instrumen itu sudah diselesaikan,” kata Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo di Jakarta, Senin (30/3).

Berdasarkan Surat Menteri Keuangan Nomor S-145/MK05/2009 tertanggal 12 Maret 2009 soal pembayaran tunjangan profesi guru dan dosen pegawai negeri sipil (PNS)/non-PNS pada Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama dinyatakan, jika sampai akhir Juni 2009 peraturan pemerintah (PP) dan peraturan presiden (perpres) tentang tunjangan profesi belum ditetapkan, pembayaran tunjangan profesi untuk sementara dihentikan.

Surat itu juga menegaskan, jika sampai akhir tahun 2009 PP dan perpres mengenai tunjangan profesi guru dan dosen belum juga ditetapkan, maka tunjangan profesi yang telanjur dibayarkan kepada guru akan dipotong secara bertahap dari gaji bulanan sesuai ketentuan.

Berikan jaminan

Bambang mengatakan, jaminan sudah diberikan Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa bahwa kedua instrumen yang sudah disepakati beberapa departemen terkait itu bisa ditetapkan pemerintah sebelum Juni.

Menurut Bambang, pemberian tunjangan profesi bagi guru serta dosen PNS dan swasta yang sudah memenuhi syarat dengan nilai sebesar satu kali gaji pokok tersebut tetap dibayarkan. Kebijakan pemberian tunjangan profesi itu merupakan amanah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang tidak bisa dihentikan begitu saja, termasuk juga oleh pemerintahan berikutnya seusai Pemilu 2009.

Bambang mengatakan, secara teknis kedua instrumen hukum yang diminta Departemen Keuangan itu terus digarap, bahkan dipercepat. Selama ini, pemberian tunjangan profesi untuk guru dan dosen di lingkungan Depdiknas tetap bisa dilaksanakan dengan adanya peraturan Mendiknas.

”Jadi, sebetulnya tak ada masalah meskipun perpresnya belum diselesaikan. Yang belum mengucur adalah tunjangan profesi untuk guru di Departemen Agama,” katanya.

Mendiknas mengatakan, terkait tunjangan profesi di Departemen Agama, Menteri Agama telah menulis surat edaran kepada semua kantor wilayah di Departemen Agama agar segera membayarkan tunjangan profesi guru dan dosen di lingkungan Departemen Agama karena sudah boleh dibayarkan.

Bambang mengakui masih ada permasalahan dalam pembayaran tunjangan profesi bagi pendidik yang berhak. Banyak tunjangan guru dan dosen yang belum bisa dibayarkan karena terbentur masalah administrasi.

Sekretaris Jenderal Depdiknas Dodi Nadika menambahkan, para guru yang akan menerima tunjangan profesi akan dinilai melalui beberapa hal.

”Para guru yang pantas menerima tunjangan adalah guru yang tetap, dibuktikan dengan SK PNS atau SK dari yayasannya. Selain itu, mereka harus mengajar sedikitnya 24 jam dalam seminggu,” kata Dodi. (ELN)

Sumber: KOMPAS, Selasa, 31 Maret 2009

Senin, Maret 23, 2009

Ada apa dengan Try out ??

"Kabid Dikmen Dinas Pendidikan (Diknas) Kota Malang Sugiharto mengatakan, dari hasil tryout kedua masih sangat mengkhawatirkan. Secara umum dari total enam ribuan siswa SMA, baru sekitar 64 pesen yang lulus tryout. Sedangkan untuk SMP, dari sekitar enam ribuan siswa angka kelulusannya juga sekitar 60 persen. "Prosentase yang banyak tidak lulus adalah sekolah awasta. Malahan ada yang seratus persen tidak lulus," ujar Sugiharto. Di tanya sekolah tersebut, dia tidak bersedia menyebutkan."
Radar Malang Senin 23 maret 2009

Ungkapan tersebut di atas memang cukup beralasan mengingat waktu ujian nasional semakin dekat tentunya perlu strategi yang jitu untuk dapat berhasil du ujian nasional.

Sepengetahuan penulis ada beberapa hal yang menyebabkan hasil try out masih jauh dari harapan :
Dari sisi siswa ;
  1. Tingkat ketelitian dalam mengerjakan soal masih mengkhawatirkan alias ceroboh. hal ini diindikasikan dari 4 kali try out yang sudah kami lakukan ternyata masih banyak siswa melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak perlu misalnya : tidak membaca/memahami soal dengan lengkap sehingga siswa memilih jawaban yang salah (pengecoh)
  2. Rendahnya motivasi untuk berhasil memperoleh nilai yang bagus alias usahanya masih sangat kurang
  3. Pemahaman/penguasaan kompetensi yang diujikan terutama pada jenjang/kelas sebelumnya masih rendah.
Saran
  1. Guru pengajar mencermati soal yang di try out kan apakah sudah fokus dengan kompetensi yang diujikan.( alias tidak asla try out)
  2. Guru pengajar melakukan analisis dan evaluasi hasil try out untuk mengetahui kompetensi yang tidak/belum dikuasai siswa.
  3. Guru melaksanakan try out mandiri yang frekuensinya disesuaikan dengan kebutuhan.
  4. Soal-soal try out mandiri yang dibuat guru handaknya berfokus pada kompetensi yang diuji dan bervariasi
  5. Guru memposisikan sebagai motivator siswanya untuk berhasil.
  6. Membentuk kelompok belajar yang dibimbing guru dengan teknik : siswa yang pandai menjadi ketua kelompok, 1 kelompok = 4-5 orang)
  7. Sekolah mendorong dan memfasilitasi guru mata pelajaran untuk melaksanakan try out mandiri.
  8. Bekerja sama dengan LBB sebagai variasi try out
  9. Memberikan motivasi melalui kegiatan di luar pelajaran : istighosah, psikoterapi dll
  10. Mengoptimalkan komunikasi antara pihak sekolah dengan orang tua
  11. Semua yang terkait berdoa agar sukses dalam UNas

Sabtu, Februari 21, 2009

Beasiswa S1 di Malaysia (lUar Negeri)

dikutip dari milis ALCoB

Bank CIMB NIAGA memberikan kesempatan BEASISWA kepada pelajar
Indonesia untuk melanjutkan S1 di Malaysia dengan program studi :
1.Micro Financing
2.Economics & Adm
3.Business & accounting
4.Syariah Banking
5.Computer Science & IT

Selengkapnya klik disini

Bagi yang tidak hadir

Bagi penyusun naskah try out yang tidak hadir pada undangan MGMP di SMP 11 Malang tanggal 19 Mei 2009 mohon SEGERA menghubungi Bu Aini K (SMPN 3 Malang) HP 08179609657 untuk menandatangani SPJ dan mengambil Sertifikat

Rabu, Februari 18, 2009

Undangan Pertemuan

Mohon Kehadiran pengurus MGMP dan penyusun naskah try out unas 2009 pada
Hari, tanggal : Kamis, 19 Peb 2009
Tempat : SMPN 11 Malang Jl Ikan Piranha Atas (kemirahan ) Malang
waktu : pukul 11.00
Agenda rapat pengurus MGMP : Membahas rencana kegiatan semester genap, Revisi LKS dll
Agenda pertemuan penyusun naskah try out : penandatanganan SPJ kegiatan
Mohon hadir tepat waktu.

NB bagi penyusun naskah yang tidak bisa hadir mohon menghubungi : Ibu Aini Kurniawati, S Pd ( SMPN 3 Malang) HP : 08179609657

BOBOT SOAL UJIAN NASIONAL LEBIH SULIT

Mengutip berita Jawa Pos tanggal 14 pebruari 2009 pada halaman Berita Utama

Untuk Dongkrak Kualitas Siswa

JAKARTA - Bobot soal Ujian Nasional (unas) 2009 dipastikan lebih sulit dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Demikian pula, ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN). Karena itu, dalam waktu dekat bakal diadakan pelatihan penyusunan naskah soal UASBN di seluruh provinsi. Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP) berharap agar tingkat kesulitan itu bisa mendongkrak kualitas anak didik.

”Bukan untuk menakut-nakuti, tapi semata untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Yang panting, soal unas dan UASBN tidak keluar dari kurikulum yang dipakai sekolah,” ujar Ketua BSNP Prof Mungin Eddy Wibowo kemarin.

Soal unas SMP dan SMA murni disusun BSNP. Naiknya tingkat kesulitan ujian tersebut lantaran hasil unas bagi siswa SMA akan dijadikan indikator untuk masuk ke perguruan tinggi.

Memang, kata dia, hasil unas tahun ini belum menjadi acuan masuk perguruan tinggi. Namun, tahun-tahun ke depan arahnya ke sana. Menurut dia, jika kualitasnya tidak ditingkatkan, perguruan tinggi tidak percaya kredibilitas unas. ”Tiap tahun kami perbaiki kualitas ujian. Terlebih lagi tahun ini karena dikawal perguruan tinggi,” jelas Mungin. Selain itu, hasil unas dijadikan pertimbangan untuk memetakan sekolah, salah satu penentu kelulusan peserta didik, dan syarat sekolah mendapat bantuan pendidikan.

Meski begitu, Mungin mengimbau siswa tak perlu risau. Sebab, hasil unas bukan satu-satunya penentu kelulusan. ”Masih ada syarat lain. Misalnya, lulus mata pelajaran di sekolah. Jika hasil unas bagus, tapi ujian di sekolah gagal, siswa bisa dinyatakan tidak lulus,” terangnya.

Untuk UASBN (unas SD), penyusunan naskah soal 75 persen dilakukan provinsi dan 25 persen pemerintah pusat. Rencananya, BSNP menggelar pelatihan terhadap para guru penyusun naskah UASBN. Pelatihan dibagi dua sesi. Gelombang pertama dilaksanakan 18-25 Februari untuk 17 provinsi yang meliputi Indonesia Timur. Gelombang kedua berlangsung 28 Februari hingga 8 Maret untuk 17 provinsi lainnya.

Untuk penyusunan naskah UASBN SD/MI, tiap kabupaten/kota akan diambil tiga guru. Yakni, pengajar matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Sedangkan guru pembuat naskah UASBN SDLB diambil per provinsi, yakni 18 guru.

Penyusunan naskah soal UASBN didampingi dosen dari perguruan tinggi terdekat yang sesuai dengan bidang keahliannya. Yakni, dosen matematika, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia. ”Dengan demikian, kami berharap agar kualitas soal unas dan UASBN terjaga. Output yang dihasilkan juga meningkat,” ujarnya.